Mengapa trading lebih sulit dari yang Anda pikirkan: 5 trap yang biasanya dialami

Alfred North Whitehead dan Bertrand Russell membutuhkan 300 halaman untuk membuktikan 1+1=2. Meskipun kelihatannya tidak demikian, membuktikan 1+1=2 secara formal dari prinsip pertama bukanlah perkara mudah. Dapat disimpulkan bahwa matematika dasar ternyata sangatlah kompleks.

Mengapa trading harian begitu sulit — kebanyakan trader ingin mengetahui jawabannya. Artikel ini juga akan mengeksplorasi lima bias yang menjadi bagian dari jawaban tersebut. Juga, Anda akan mendapatkan beberapa rekomendasi tentang cara menghindari kesalahan ini dan kesalahan umum lainnya.

1. Bias keakraban

Salah satu alasan mengapa trading itu sulit adalah keakraban atau “bias rumah”. Pada dasarnya, banyak trader cenderung melebih-lebihkan pengetahuan mereka tentang topik tertentu dan meremehkan perlunya melakukan penelitian.

Anda mungkin berpikir bahwa Anda cukup tahu tentang perusahaan tertentu dan sahamnya, yang secara otomatis memberi Anda keahlian yang relevan. Tapi ini adalah sebuah jebakan. Anda mungkin berakhir dengan portofolio yang terlalu terkonsentrasi (satu perusahaan, satu sektor, satu negara) atau akan membuat keputusan investasi yang buruk karena Anda tidak melakukan pemeriksaan lanjutan.

2. Bias ekstrapolasi

Bias ekstrapolasi berarti mengambil tren yang ada dan membuat estimasi untuk masa depan hanya berdasarkan tren tersebut. Dengan kata lain, memprediksi masa depan melalui beberapa fakta.

Manusia sering percaya bahwa banyak peristiwa akan berulang. Asumsi ini terkadang benar, tetapi kinerja masa lalu tidak boleh menjadi satu-satunya indikator kinerja masa depan. Pasar naik dan turun, bergerak dalam siklus dengan tingkat intensitas dan durasi yang berbeda.

Jika Anda membeli pada waktu yang salah berdasarkan “perasaan yang baik”, misalnya, tepat sebelum the burst of the Dotcom bubble in 1999, Anda membutuhkan 11 tahun untuk memulihkan kerugian tersebut.

3. Jebakan Anchoring 

Jebakan jangkar terjadi ketika orang terlalu percaya diri dan terlalu bergantung pada apa yang awalnya mereka pikirkan. Misalnya, persepsi Anda tentang suatu saham itu positif, dan ternyata salah. Tetapi karena bias jangkar, Anda mungkin merasa begitu tertarik—atau “berlabuh”—dalam analisis awal Anda sehingga Anda menolak untuk mundur dari posisi Anda.

Sekali lagi, cara berpikir seperti ini memang berguna. Tetapi pasar keuangan dikenal tidak dapat diprediksi, jadi Anda harus bersedia bersikap fleksibel dan mengakui ketika prediksi  Anda salah.

4. Jebakan konfirmasi

Ketika orang membuat kesimpulan terlebih dahulu dan kemudian mencari orang lain yang berpikiran sama mengenai hal tersebut, mereka sedang berada dalam jebakan konfirmasi. Internet begitu luas sehingga Anda hampir pasti akan menemukan orang-orang yang pandangannya konsisten dengan apa yang sudah Anda yakini. Ini membuat jebakan ini lebih mudah dialami.

Sebagai contoh, katakanlah Anda telah membuka posisi besar pada sebuah saham. Jika para ahli, analisis, dan komentar entah bagaimana berbeda dari tesis Anda, Anda akan mendiskreditkan, menyaring, atau mengabaikannya. Untuk menghindari jebakan ini, Anda perlu melihat pendapat yang berbeda dan mempertimbangkan kembali keputusan Anda berdasarkan informasi terbaru.

5. Loss Aversion

Seperti namanya, jebakan ini menggambarkan kecenderungan untuk berusaha keras untuk menghindari kerugian. Terkadang, itu menjadi lebih penting daripada mendapatkan pengembalian. Misalnya, beberapa trader dan investor akan berusaha lebih keras untuk menghindari kerugian $100 daripada menghasilkan $100. Akibatnya, ini mengarah pada penjualan panik selama aksi jual besar-besaran. Mereka dengan cepat mengubah kerugian mereka yang belum direalisasi menjadi kerugian yang nyata, seringkali terjadi pada saat waktu yang tidak tepat.
Jika portofolio Anda turun, tunggu sampai Anda lebih tenang dan lebih objektif. Anda mungkin tetap menjual, tetapi setidaknya itu akan menjadi keputusan yang rasional.

Bagaimana menghindari sabotase kesuksesan Anda sendiri?

Jika Anda masih terus bertanya pada diri sendiri “ mengapa trading begitu sulit ”, Anda mungkin telah menjadi penghalang kesuksesan Anda sendiri. Mungkin saja perilaku dan pikiran Andalah yang membuat Anda tidak berkembang.

  • Kenali kebiasaan menyabotase diri sendiri. Apa yang menyebabkan dan memperkuat perilaku negatif Anda? Cobalah untuk melihat keputusan trading Anda dari sudut pandang orang luar.
  • Buat perubahan kecil yang berarti. Hindari mencoba membuat perubahan besar dan menyeluruh sekaligus. Mulai dari hal yang kecil untuk membuat transformasi yang lebih besar dari waktu ke waktu?
  • Tetap berpikiran terbuka. Jangan takut untuk menemukan diri Anda dalam situasi ketika pasar membuktikan bahwa Anda salah. Anda harus melepaskan keinginan untuk selalu menjadi benar, ini akan mempermudah untuk lebih fokus pada apa yang terjadi dan menyesuaikan diri.

Sebagai sebuah catatan, merasakan bahwa trading tidaklah mudah adalah normal— karena memang benar adanya. Tetapi perjalanannya akan menjadi lebih bermanfaat ketika Anda menjadi lebih terampil dan berpengalaman. Pastikan untuk menjaga pola perilaku sadar dan alam bawah sadar Anda, mungkin Anda akan menemukan diri Anda dalam beberapa jebakan psikologis ini.

Bagikan
Salin tautan
Link copied
ARTIKEL TERKAIT
3 min
Cara menjadi investor yang sukses
4 min
Apa yang dimaksud dengan pivot point dalam trading?
4 min
Bagaimana kemalasan membantu Anda menjadi trader yang sukses
4 min
Bagaiman trading yang penuh emosi dapat menghancurkan mu – tips untuk menghindari nya
4 min
Bagaimana belajar dari kesalahan trader lain
4 min
Cara mendapatkan pola pikir pro ambil-risiko